Minggu, 17 Februari 2013

Artikel Islami : cerita Islam"Hari Ini Hari Terakhirku" (Bagian III)

Tidak ada komentar
*lanjutan*

Hanan memandangku dalam saat aku menceritakan itu. Wajahnya telah dibasahi air mata sambil mengatakan, "Sejak saat itu, Huda benar-benar berubah. Ia mulai menjaga sholat lima waktuunya. Ia mulai meninggalkan sejumlah kawan-kawannya. Bahkan ketika ia menamatkan sekolahnya, ia mengubah niatnya untuk masuk ke Fakultas Perdagangan menjadi Fakultas Syariah, agar dapat mempelajari dengan benar prinsip-prinsip agama Islamnya. Kami memang dilahirkan tanpa ada yang membimbing kami menuju jalan yang benar. Ayahku hanya sibuk memikirkan bisnis, ibuku pesta-pesta, kakak laki-lakiku telah pergi untuk tinggal di Amerika."

Ia mengisahkan itu padaku, dan aku mendengarkannya dengan hati yang teriris-iris. Aku bahkan mulai berusaha menahan air mataku yang hampir berjatuhan. Namun ia  bersikeras menyatakan kesedihannya terhadap kondisi banyak keluarga muslim yang hidup seperti ini. Berapa banyak pemuda-pemudi yang lenyap dalam godaan setan, mereka tenggelam dalam kesenangan dunia.


Hanan meninggalkanku dengan mata yang dipenuhi dengan air mata. Setelah ia pergi, aku pun kembali melanjutkan membaca surat itu. Aku merasa kedua tanganku bergetar. Aku tidak tahu mengapa, namun aku merasakan getaran yang hebat dan hati yang penuh debar. Aku berharap dapat menuliskan surat itu seutuhnya, tapi maafkan aku, aku tidak mampu karena ada hal-hal pribadi di dalamnya. Tapi aku akan mengutipnya beberapa bagian yang akan menggambarkan kondisi Huda:

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Dahulu aku hidup dalam lumpur dunia. Aku tidak menemukan orang yang menuntunku ke jalan yang benar. Aku melakukan apa saja dan kapan saja aku mau. Semua yang kukerjakan adalah benar, meskipun sebenarnya salah. Tujuanku adalah menjadi orang yang bahagia, meskipun hanya kebahagiaan yang palsu. Namun aku persaksikan padamu bahwa aku tidak pernah tenang dalam tidurku. Aku selalu merasakan ketakutan yang hebat yang tidak kuketahui. Perasaan yang hampa. Benar-benar hampa. Dan hatiku selalu tertekan.

Kebahagiaanku bercampur dengan kepahitan yang tak kuketahui sumbernya. Ibu dan ayahku, mereka tidak cukup amanah terhadap karunia Allah untuk mereka. Mereka justru berperan dalam kehampaanku dan kehampaan saudara-saudariku yang lain. Kenapa? Demi harta yang kini aku tidak bisa lagi menikmatinya. Karena sekarang aku tidak punya apa-apa selain 1 x 2 meter saja. Aku tidak punya apa-apa selain amalku.

Sedangkan harta dan kedudukan mereka sama sekali tidak berguna untukku sekarang, karena aku telah berada di hadapan malaikat yang akan menghisabku. Untuk mereka itu semua juga esok tidak akan berguna ketika mereka datang ke tempat ini. Mereka tidak akan selamat dari siksa Allah.


Namun setelah hari itu dan setelah "permainan" itu, aku sudah memutuskan untuk mematikan gadis yang ada dalam diriku, agar aku dapat lahir kembali menjadi seorang gadis lain. Gadis yang selalu berpegang dengan jalan kebenaran. Betapapun beratnya, namun aku selalu dapat tidur dengan nyaman, dengan hati yang tenang. Perasaan yang diliputi kenyamanan dengan kebahagiaan yang puncak, sembari tetap berdo'a semoga Allah memperbaiki dan menunjuki ayah-ibuku ke jalan yang benar, meninggalkan semua kesesatan.


Itulah kutipan surat Huda. Semoga Allah merahmatinya dan memasukkannya ke dalam Surga Firdaus. Suratnya telah membuat hatiku menangis sebelum kedua mataku yang menangis. Hanan tidak mampu mengucapkan selain kata : alhamdulillah.

Nah, gimana akhi dan ukhti? Kisah yang bagus bukan? Mulai sekarang, kita juga harus berani ya mengingatkan teman-teman kita yang masih melakukan perbuatan yang mungkar. Dan karena kita juga bukan manusia sempurna, pasti kita juga pernah khilaf, makanya kita harus saling mengingatkan ya. Ingat, tugas kita semua, mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.
Sekian, wassalamu'alaikum wr wb :)

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Berita Terpopuler

Member