IRMAS TV

Loading...

Minggu, 17 Februari 2013

Artikel Islami : cerita Islam "Hari Ini Hari Terakhirku" (Bagian I)

Tidak ada komentar
Assalamu'alaikum akhii wa ukhti,
Di posting kali ini, kami ingin berbagi cerita yang dikutip dari sebuah buku berjudul "CHICKEN SOUP Untuk Remaja" karya Syaikh Abdullah Muhammad. Buku ini memuat kumpulan kisah nyata para pemuda-pemudi yang hidup dalam zaman modern seperti sekarang ini yang mendapatkan rahmat Allah sehingga dapat terhindar dari budaya modern yang tampak indah namun ganas. Kisah perjalanan dan pengalaman mereka benar-benar melimpahkan hikmah di jiwa-jiwa yang mau mengambil pelajaran. Nah, ini adalah salah satu kisah seorang gadis tentang amar ma'ruf nahi mungkar. Yuk disimak...


"Hendaklah diantara kalian ada suatu umat yang menyeru kepada kebaikan, memerintah kepada yang ma'ruf dan melarang yang mungkar, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung" (Q.S. Ali Imran ayat 104)

Inilah yang aku pelajari tentang amar ma'ruf nahi mungkar. Aku tidak pernah menduga bahwa suatu hari nanti kalimat ini memiliki kisah tersendiri dalam hidupku untuk selamanya. Aku selalu khawatir jika melihat seorang gadis melakukan maksiat, aku khawatir mendekati dan berbicara dengannya. Tidak ada alasan lain selain aku takut merasa tidak enak mendengarkan jika ia mengatakan "Biarkan saja aku, ini bukan urusanmu!" atau "Siapa yang mengizinkanmu untuk ikut campur dengan apa yang bukan urusanmu?" atau ungkapan-ungkapan lainnya.

Maka aku selalu dilema antara mengingatkan atau tidak mengingatkan, antara mendiamkan atau menyampaikannya. Hingga akhirnya aku mengalami sebuah pengalaman yang setelahnya membuatku bertekad untuk memerangi setan dan mewujudkan kehendak Allah Yang Maha Pengasih. Ini adalah sebuah kisah tentang seorang gadis bernama Huda, yang belum aku kenal dengan baik, kecuali setelah ia meninggal dunia.

Suatu hari, ada seorang gadis, yang tidak kukenal, meneleponku dan janjian untuk bertemu denganku. Aku kebingungan, tapi ia katakan ada hal yang sangat penting yang harus ia sampaikan, maka aku menyetujui untuk bertemu dengannya esok hari.

Pada jam yang telah disepakati, ia pun datang. Setelah kami duduk, ia memperkenalkan dirinya. Namanya Hanan, seorang gadis yang lebih tua dariku beberapa tahun. Matanya redup, pakaiannya hitam, suaranya begitu sedih dan terbata-bata. Setelah beberapa saat kami duduk dalam diam, ia mulai bicara. Hanan ingin bertemu denganku untuk menyampaikan surat dari adiknya, yang bernama Huda untukku.

Ia menuturkan, "Saudariku, Huda, mengalami sebuah kecelakaan mobil sejak 6 bulan yang lalu. Peristiwa itu menyebabkan ia mengalami patah tulang dan cedera yang sangat banyak di tubuhnya. Setelah dirawat selama 1 bulan di rumah sakit, ia mengalami pendarahan hebat yang menyebabkan ia meninggal dunia. Beberapa waktu sebelum ia meninggal, ia memintaku untuk menyerahkan surat yang ditulisnya di rumah sakit ini kepadamu. Aku mohon maaf atas keterlambatanku menyerahkannya."

Hanan bercerita, pada saat Huda meminta Hanan untuk menyampaikan surat itu, Hanan bertanya, "Huda sayangku, siapakah gadis yang kau berikan surat ini? Mengapa engkau bersikeras memberikan surat ini kepadanya?". Huda pun menjawab, "Gadis ini telah menyelamatkanku dari neraka dengan mainannya". Aku semakin tidak mengerti. Aku terus menatap Hanan, lalu menatap surat itu, membukanya, dan mulai membacanya. Bersama dengan baris pertama yang kubaca, lintasan kenanganku kembali membawaku ke tahun 1999...

Saat itu, aku sedang menghabiskan liburan musim semi di tepi pantai bersama keluargaku. Di sana aku berkenalan dengan 3 orang gadis yang tinggal di apartemen sebelah kami. Tapi aku tidak terlalu banyak berinteraksi dengan mereka karena sibuk membantu ibuku yang sedang melewati masa pemulihan pasca operasinya yang berjalan sukses, alhamdulillah. Aku tidak meninggalkan ibuku kecuali untuk sholat berjama'ah di masjid di dekat apartemen kami. Sepanjang perjalanan dari apartemen-masjid dan sebaliknya, aku memperhatikan satu hal yang membuat hatiku sedih. Ada sekelompok gadis termasuk di dalamnya 3 gadis yang kuajak berkenalan tempo hari, dan tidak ada seorang pun dari mereka yang menunaikan sholat.

Setiap kali aku keluar menuju masjid khususnya untuk menunaikan shalat Isya, aku menemukan mereka malah duduk-duduk di tepi pantai yang sangat dekat dengan masjid. Dan setiap kali aku bermaksud menasehati mereka, aku menemukan diriku tidak tahu harus mulai dari mana. Padahal aku tahu bahwa itu adalah kewajibanku sebagai seorang muslimah, kewajiban untuk melakukan amar ma'ruf nahi mungkar. Dan menginggalkan sholat adalah sebuah kemungkaran yang harus kita cegah. Tapi aku tidak tahu mengapa aku tidak berani melakukannya. Mungkin karena aku masih kecil, karena aku melihat mereka semua lebih tua dariku 3 tahun atau lebih.

Aku merasa bahwa mereka tidak akan menerima nasehat dari seorang gadis kecil sepertiku. Atau, aku merasa takut mereka akan mebuatku tidak enak dengan ucapan-ucapan mereka, seperti bahwa aku tidak punya urusan dengan urusan pribadi mereka. Atau alasan-alasan kosonng yang digambarkan oleh setan dalam benakku, agar mengurangi semangatku untuk menasehati mereka. Hingga tibalah hari itu, hari di mana aku keluar untuk menunaikan sholat Isya, di hari terakhir kami bersama berada di tepi pantai itu....

*bersambung*

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Berita Terpopuler

Member